Sunday, 12 May 2013

Obat Generik Berlogo? Siapa Takut

Sepanjang sejarah kehidupan, sakit adalah bagian dari sejarah tersebut. Tidak ada satu makhluk terutama manusia yang tidak pernah terserang sakit, walau dokter sekalipun. 
Dahulu, pengobatan dan perkembangan ilmu pengobatan bertumpu pada obat-obatan herbal, eksperimen dan percobaan. Sisi magis dan kepercayaan juga adalah bagian tidak terpisahkan.

Para tabib Yunani lebih dulu mengembangkan pengobatan sejak tahun 500SM. Cina dan India juga mengembangkan metode sendiri dalam hal pengobatan.
Ilmu pengobatan semakin berkembang pada jaman kejayaan kebudayaan Islam. Tabib terkenal seperti Ibnu Sina, telah banyak memberi sumbangsih ilmu pengobatan berdasarkan pandangan ilmiah. 
Ketertarikan pada analisa penyakit dan penggunaan obat-obatan, semakin jauh berkembang pada tahun 1500an oleh para ahli di barat. 

Berbagai penelitian para dokter, mendorong penemuan bahan-bahan kimia lebih murni, sebagai obat. Metode isolasi senyawa obat, semakin membantu tekhnik-tekhnik penyembuhan yang lebih efektif. Hingga kemudian berkembanglah ilmu yang jauh lebih spesifik dalam hal pengobatan, yaitu ilmu farmasi.

Ilmu farmakologi, sudah dikenal seiring perkembangan ilmu kedokteran. Akan tetapi Farmakologi baru  menjadi cabang ilmu tersendiri sejak abad XVII di Perancis. Sekolah farmasi pertama berdiri di Perancis pada tahun 1797. Buku, majalah dan jurnal farmakologi pun semakin sering terbit. Perkembangan ini kemudian diiringi oleh beberapa negara Eropa lainnya. 

Terlepas dari itu semua, sebagai orang-orang yang tinggal menikmati kemajuan farmakologi dan ilmu kedokteran, kita patut bersyukur bahwa semua yang telah dikembangkan, sungguh sangat bermanfaat bagi kesehatan manusia.

Bukan hal mudah, suatu senyawa bisa dikatakan sebagai obat. Misalnya saja golongan antibiotik. Salah satu contohnya antibiotik golongan Pennicylin. Pennicylin dahulunya ditemukan oleh dr. Flemming, seorang ahli berkebangsaan Inggris. Kandungan aktif Pennicylin awalnya adalah senyawa yang terdapat dalam jamur Pennicilium notatum dari kelas Deuteromycetes.

Isolat senyawa tersebut, tidak begitu saja dipilih sebagai antibiotik. dr. Flemming telah melewati berbagai eksperimen, sehingga sampai pada kesimpulan Pennicylin adalah antibiotik. Pada aplikasinya, Pennicylin murni masih memiliki beberapa kekurangan. 

Seiring perkembangan ilmu, penelitian terus dilanjutkan oleh ahli-ahli lainDerivat obat dan penelitian lebih mutakhir terus berkembang, untuk menutupi kelemahan dari hasil penelitian sebelumnya. 

Produksi obat butuh tahapan yang panjang. Diawali penelitian, percobaan, tahapan ektraksi, isolasi senyawa, sintesis, uji klinis, uji toksikologi, uji terhadap mencit, uji terhadap mamalia yang jauh lebih besar, hingga sampai bisa di konsumsi oleh manusia sebagai obat. 

Singkat kata, tidak sembarang senyawa bisa dengan mudah diproduksi sebagai obat. Perjalanannya sungguh panjang. Penentuan spektrum senyawa obat yang lebih spesifik, akan memudahkan para dokter memberikan obat terhadap pasien dengan diagnosa tertentu. Dengan maksud menghindari kesalahan pengobatan.

Inilah manfaat besar dari ilmu farmakologi dan biokimia medisinal, yang begitu penting bagi dunia kedokteran. Kini, dunia farmasi sedemikian maju. Sehingga berbagai jenis penyakit telah tersedia obat dan metode pengobatan yang ampuh.  


foto diambil dari sini

Dari sinilah awal munculnya istilah obat paten dan obat generik.
Obat dikatakan paten karena dipatenkan oleh pihak penemu. Apabila dalam suatu penelitian menemukan, mengisolasi dan meracik jenis obat baru dengan kualitas yang sudah teruji dengan baik, tentu saja dari pihak peneliti dan yang mendanai dalam hal ini adalah perusahaan farmasi, maka dengan legal mereka akan mematenkan produk tersebut. Hak paten ini memungkinkan mereka memiliki keuntungan dalam hal penjualan, baik kepada masyarakat atau pembeli lisensi. Umumnya hak paten ini dimiliki dalam usia sekitar 20 tahun. Obat yang dipatenkan inilah yang dikenal dengan obat paten. 

Ketika masa paten telah habis, maka perusahaan farmasi lain, bisa memproduksi obat serupa dengan kandungan yang sama persis dan kualitas identik, namun dengan merek berbeda. Obat-obatan ini lah yang kemudian dinamakan generik.  

Secara sederhana, kita dapat pahami bahwa perbedaan antara obat generik dan obat paten, hanyalah pada hak pemimpin pasar obat.  Hak paten nama. Itu saja. Mengenai prosedur produksi obat, berbagai uji klinis, isi, kualitas dan kerja obat tidak ada yang berbeda. Sama.

Jenis obat generik, harga dan efek obat generik.

Obat generik secara garis besar dapat digolongkan dalam tiga jenis. Obat generik klon atau persis. Obat jenis ini, adalah generik dari obat paten yang dibuat dengan sama persis seperti patennya. Hanya namanya dan rincian kandungan pada label yang membedakannya. Biasanya obat generik jenis ini berasal dari perusahaan farmasi yang sama dengan yang memproduksi obat paten.

Ada pula jenis obat generik berlisensi. Jenis ini adalah obat generik yang diproduksi dari perusahaan farmasi pembeli lisensi dan resep dari perusahaan pemegang hak obat paten.

Dan jenis terakhir adalah obat generik saja. Obat ini diracik dengan resep sendiri oleh perusahaan manufaktur, tanpa mengurangi manfaat dan kandungan bahan aktif obat tersebut. 

Obat generik biasa yang telah terdaftar, disebut dengan Obat Generik Berlogo. Untuk bisa terdaftar, harus sudah melewati tahap uji dan menunjukkan efek terapeutik yang sama dengan obat paten atau obat berlisensi. Setelah bisa menunjukkan sejumlah kandungan yang setara dengan obat-obat jenis paten dan berlisensi barulah terdaftar sebagai obat generik berlogo.

Harga dari obat generik bermerek dan pemegang lisensi tentu jauh lebih mahal ketimbang obat generik sebenarnya. Karena harga ditentukan oleh perusahaan farmasi.


Sementara obat generik berlogo, harga nya dikendalikan oleh pemerintah sebagai pemberi ijin beredar dan pemegang kebijakan. Poin yang perlu diingat bahwa pada jenis obat generik berlogo, selain harga yang lebih murah, adalah jaminan mutu dari pemerintah dan perusahaan produsen obat tersebut untuk konsumen.
 
foto diambil dari sini


Jika mempertanyakan resiko, semua obat pasti ada efek sampingnya. Terutama untuk obat-obatan berefek keras. Yang perlu diperhatikan bahwa tidak bisa sembarangan menggunakan atau meresepkan obat. Sedikit selisih kandungan bahan aktif obat akan berpengaruh besar bagi tubuh. Ketika tubuh telah terbiasa pada merek tertentu, tidak bisa begitu saja mengganti obatnya dengan merek lain. Walaupun kandungan bahan aktifnya sama. Oleh karena itu pada setiap kemasan obat keras, selalu tertulis "Hanya dengan Resep Dokter"


Bisa kita tarik kesimpulan, bahwa tidak ada yang berbeda dalam hal khasiat obat sebagai media penyembuh. Contohnya untuk setiap obat oral merek apa saja tetap melewati fase yang sama dalam tubuh. Kerongkongan, lambung usus, setelah itu diserap oleh pembuluh darah dan diangkut melewati jantung, lalu dipompa keseluruh tubuh. Melewati otak, jaringan tubuh, lalu limpa, ginjal dan sisanya dibuang. Tidak ada yang berbeda sama sekali. 

Sekali lagi, yang membedakan hanya hak paten, hak market perusahaan dan kewenangan pemerintah. Tentu saja dalam hal ini, obat generik berlogolah yang paling dekat dengan rakyat Indonesia.

Mengapa obat generik berlogo harganya jauh lebih murah? Sederhana saja. Jawabannya adalah, karena produsen obat tersebut, tidak membutuhkan biaya besar dalam penemuan bahan awal, biaya dalam proses pembangunan dan pengembangan obat serta biaya hak paten. Jadi tentu saja, harga produksi obat generik berlogo tidak sebesar obat paten atau obat berlisensi. Harga jual tergantung pada kebijakan pemerintah. Sehingga harga jual bisa ditekan seminimal mungkin.
 
Angka kemiskinan masyarakat Indonesia yang cukup tinggi, membuat banyak masyarakat mengeluhkan mahalnya obat yang harus dibeli. Budget yang dimiliki hanya mampu mencapai angka pulihan ribu, bahkan mungkin tidak mampu sama sekali.  

Asumsi bahwa obat generik yang beredar adalah biang kesehatan yang tidak kunjung membaik tentunya harus diluruskan. Betapa pentingnya manfaat obat generik berlogo bagi kemaslahatan masyarakat Indonesia khususnya. Kehadiran OGB, merupakan angin segar untuk mewujudkan Indonesia sehat, tanpa memandang derajat perekonomian.

Promosi mengenai obat generik berlogo harus terus digalakkan. Lewat iklan media massa, media cetak dan elektronik. Bisa pula dengan penyebaran pamplet dan penyuluhan di puskesmas, posyandu atau PKK.  Penggunaan berbagai media sosial juga bisa menjadi solusi. 

Intinya, sosialisasi secara merata sangat diperlukan, agar masyarakat semakin tahu bahwa obat generik sama baiknya dengan obat paten.

Jadi jangan takut untuk meminta resep obat generik berlogo dan mengkonsumsinya demi kesehatan yang jauh lebih baik.
        

Referensi :

http://iqbalgamala.blogspot.com/2012/05/sejarah-pengobatan.html 

http://jajangjapar27.wordpress.com/2011/11/28/pengertian-ilmu-resep-beserta-para-tokoh-farmasi/

http://health.detik.com/read/2011/09/06/133428/1716514/763/beda-obat-generik-dan-obat-paten
 

No comments:

Post a Comment

Post a Comment